Friday, 19 December 2014

SEMUT DAN RUMOR

Pantas saja Amsal katakan, pergilah kepada semut, perhatikan lakunya dan jadilah bijak.

Semut dan Rumor

Siang tadi aku mengambil air minum di dapur. Sembari meneguk air dari gelas, mataku menangkap gerak-gerik yang tak baru sebenarnya, tapi kali ini berhasil menarik perhatianku. Aku mengamat-amati sederet makhluk kecil berbisa (apakah aku berlebihan? Hhihi) berwarna merah kecokelatan yang bergerak tanpa suara (di telingaku). Mereka tampak berjejer menapaki dinding keramik (?) dapurku. Ya, semut. Jangan pikir mereka terlalu kecil kalau sekadar membuatmu merasakan sakitnya sebuah cubitan tipis tapi bengis. No! Itu keahlian mereka.

Entah itu apa namanya, kulihat seperti antena serupa tanduk di kepala mereka yang dipakai untuk mengapit dan membawa bekal makanan. Beban bawaan mereka tentu saja tak lebih mini dari tubuh mereka. Tapi gerak mereka lincah.

Tiba-tiba saja seekor dari antara mereka terjatuh. Mungkin dia pusing karena baru bertengkar dengan kekasihnya. Atau bisa saja dia belum makan seharian karena makanannya direbut si ketua geng. Hmm, atau bagaimana kalau rupanya dia hanya lelah? Siapa yang tahu? Meski begitu, tak ada tanda-tanda kegalauan sedikit pun. Dia langsung sigap melangkah lagi.

Tahu apa yang sempat melintas di pikiranku? Rumor tentu malu pada semut. Bagaimana tidak? Rumor bilang, “Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi..” (Silakan teruskan).
Semut-semut itu, hmm, mereka pejuang.