Friday, 19 December 2014

RINDU SERUPA KOPI

Kopi, Buku, Rindu, dan Senja

Tenggelam tapi tak mati. Kopi dan senja adalah sejoli yang mampu membuatku merasakannya. Sore itu, kuseduh kopi robusta di cangkir kuning kesayanganku dengan air yang baru saja mendidih. Hitam pekat kopinya jadi terlihat manis meski nyatanya pahit. Lidahku masih belum terbiasa dengan kelatnya. Sedikit gula tak akan menghilangkan kenikmatannya kan? Kudengar, kandungan kafein kopi robusta lebih tinggi dibandingkan kopi arabica. Tapi kalau soal aroma, arabica mengalahkan robusta.

Jauh di atas sana, mega berpendar kemerahan bagaikan perempuan yang tersipu malu karena digoda oleh kekasihnya. Aku tersenyum menyaksikannya, penasaran bagaimana kelanjutan kisah itu.
Asap-asap tipis masih meliuk bebas di atas kopiku. Kuseruput pelan-pelan. Aromanya menenggelamkanku. Pahitnya yang agak tersamarkan oleh sedikit gula menggelitik tenggorokan. Angin berdesir menyentuh pipiku. Aku menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan mata sebentar lalu kembali hanyut dalam pelukan senja. Sulit mendapati keheningan dalam kebisingan dunia ini. Makanya, tak mau kulewatkan waktu itu. Saat yang tepat untuk mengosongkan diri dari segala hal. Hanya ada satu yang masih meringkuk dalam kepalaku. Namamu.

Apakah kau merindukanku? Aku berusaha menjawabnya tapi akan terasa palsu jika bukan kau yang langsung mengatakan padaku. Lagipula aku tak mau salah menerka. Pikiranku tampaknya sudah bersiap berkelana bebas menuju ke mana kau berada. Buru-buru kutepis. Ah, aku ini kenapa?

Rupanya rindu serupa kopi. Pahit tapi menganakkan candu. Syukurlah, senja masih belum pergi. Sekali lagi aku menghela napas dalam-dalam. Kalau tidak, mungkin pahit akan mencekikku saat tenggelam oleh rindu. Kopi dan senja adalah sejoli yang tepat untuk menjaga hati yang dipenuhi tanya dan sekelebat rindu yang suka muncul diam-diam.