Wednesday, 3 December 2014

KENAPA AKU (HARUS) PUTUS ASA?



Tanpa diminta, putus asa bisa datang kapan saja. Rasa-rasanya mundur adalah pilihan yang terbaik. “Ya, daripada terus melangkah, tapi hanya terus dan terus mendapati jalan buntu? Ah, ini terlalu melelahkan!” ujar sebagian orang.
Putus asa hanya akan terjadi ketika ada sesuatu yang memang sangat ingin kita capai, tapi rasa-rasanya jalan menuju ke sana terlalu sukar. Istilah ‘cepat-tepat’ seolah-olah sudah menancap di kepala kita. Makanya, ketika prosesnya terasa agak begitu lama dan tak mudah, putus asa langsung datang menyapa. Seolah merasa diri sudah gagal. Siapa yang suka dengan kegagalan? Tak seorang pun! Tapi dalam sebuah tulisan, Larry Wilde, seorang penulis sekaligus seorang comic asal New Jersey mengingatkan kembali sebuah pepatah kuno, yaitu ‘Jika kau gagal, penyebabnya adalah karena kau mencoba. Jika kau berhasil, penyebabnya karena kau menggunakan sebuah peluang.’
Larry Wilde adalah seseorang yang juga pernah berada pada titik keputusasaan. Dia bahkan ditolak sebanyak 26 kali, sebelum akhirnya buku pertamanya yang berjudul ‘The Great Comedians Talk About Comedy’ diterbitkan. Sekali ditolak saja rasanya begitu menyakitkan, bayangkan bagaimana penolakan hingga berpuluh-puluh kali!
Ingat J.K. Rowling? Sebelum sukses dengan Harry Potter, dia bahkan sempat terpuruk pada level kehidupan terendahnya. Dia miskin, hidup sebagai single parent, dan naskahnya juga sempat ditolak oleh beberapa penerbit. Kalau pada saat itu Rowling menyerah, tak akan pernah ada novel menakjubkan yang mengisahkan kehidupan di Hogwarts!

Perlu upaya dalam mewujudkan impian, atau selamanya itu hanya akan menjadi mimpi. Biarpun kadang prosesnya begitu melelahkan, ingatlah bahwa semua yang terjadi di bawah matahari ada waktunya.
Saat putus asa datang menghampiri, katakanlah kepadanya, “Aku tau kau sangat ingin merayuku, tapi aku tak tertarik padamu. Aku mencintai impianku dan aku akan mengejarnya. Cinta harus dikejar, bukan?”