Apakah mencintai itu selalu mudah? Tidak. Karenanya, perlu mau belajar.
![]() |
| http://learn.compactappliance.com/ |
Aku sedang duduk sendirian di pojokan
sebuah kafe yang dekat dengan kantor suamiku. Lagu-lagu dengan irama musik
tidak terlalu mengentak mengalun dari tadi, cocok denganku yang memang tak
begitu gandrung irama kencang. Pun aroma kopi yang menyeruak setiap kali
barista meraciknya, benar-benar bikin teduh suasana hati. Tepat seperti yang dimuat di banyak artikel tentang kopi. Aromanya menenangkan.
Cinta juga bisa begitu menenangkan,
bahkan bisa berlaksa-laksa lebihnya dari yang kopi punya. Tentu saja bila ia diolah dengan tepat. Seperti dalam menyajikan kopi, membuat cappuccino, misalnya. Seenak apapun kopinya,
kalau saja barista salah membuat takaran, yaitu antara espresso, steamed milk, dan milk
froth-nya, maka rasa sebenarnya akan gagal sampai di peneguknya. Tak usah
soal rasa, aromanya pun barangkali tidak tercium seperti seharusnya. Begitupun dengan cinta, bila tak diberi komposisi dan diracik dengan pas, maka bagaimana
bisa rasanya enak? Bagaimana bisa ia mampu menenangkan?
