Showing posts with label #sekar #sharing #sajak #puisi #catatanharian #ayatalkitab. Show all posts
Showing posts with label #sekar #sharing #sajak #puisi #catatanharian #ayatalkitab. Show all posts

Monday, 26 September 2016

Belajar Mencintai Setiap Hari

Apakah mencintai itu selalu mudah? Tidak. Karenanya, perlu mau belajar.  
http://learn.compactappliance.com/
Aku sedang duduk sendirian di pojokan sebuah kafe yang dekat dengan kantor suamiku. Lagu-lagu dengan irama musik tidak terlalu mengentak mengalun dari tadi, cocok denganku yang memang tak begitu gandrung irama kencang. Pun aroma kopi yang menyeruak setiap kali barista meraciknya, benar-benar bikin teduh suasana hati. Tepat seperti yang dimuat di banyak artikel tentang kopi. Aromanya menenangkan.

Cinta juga bisa begitu menenangkan, bahkan bisa berlaksa-laksa lebihnya dari yang kopi punya. Tentu saja bila ia diolah dengan tepat. Seperti dalam menyajikan kopi, membuat cappuccino, misalnya. Seenak apapun kopinya, kalau saja barista salah membuat takaran, yaitu antara espresso, steamed milk, dan milk froth-nya, maka rasa sebenarnya akan gagal sampai di peneguknya. Tak usah soal rasa, aromanya pun barangkali tidak tercium seperti seharusnya. Begitupun dengan cinta, bila tak diberi komposisi dan diracik dengan pas, maka bagaimana bisa rasanya enak? Bagaimana bisa ia mampu menenangkan?


Wednesday, 21 September 2016

Ketika Takut Memeluk

Adalah perongrong sejati yang jatuh cinta padaku. Takut.

Sejak lama perongrong ini mengincarku, padahal sudah berulang kali aku menampiknya dan mengusirnya waktu dia terus dan terus menguntit perjalananku.

"Aku tidak menyukaimu. Pergi jauh-jauh dariku dan jangan mengganggu lagi!" Keras aku menghardiknya, namun dia pura-pura tuli, pun tak peduli. Tidak sedikitpun sakit hati. Malahan tersenyum.

Kucari ruang bersembunyi biar 'takut' kehilangan jejakku, tapi dia bagaikan punya antena tercanggih yang bisa melacak ke manapun pergerakanku. Saking lelah, sering ku lengah. Di sanalah dia langsung datang memelukku erat bagaikan seorang pria yang sigap menolong kekasihnya yang sedang kelelahan. Cerdik! Dan bodoh sekali... aku justru terbuai. Hanyut dalam pelukannya.

Aku tersentak. Selama kubebaskan dia memelukku seenak hati, selama itu pula aku hanya akan berdiri di tepian saja. Tidak bergerak maju, meski sudah tiba di tempat yang kutuju. Cuma memandangi tanpa pernah menikmati kesempatan yang sedang terpampang rupawan di hadapanku, lantaran nyali sudah keropos betul oleh 'takut'. Kasihan.

Maka inilah sebuah teguran kasih untuk yang sedang dipeluk takut sepertiku.
"Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?"

Lantas segera menyelisik, apakah sudah tepat tempatku bersembunyi selama ini? Jika ya, maka sudah pasti takut tak akan punya nyali mendekat, apalagi coba memeluk. Seperti kata Daud: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku."