Friday, 15 May 2015

MEUTYA HAFID - DULU KERJA SERABUTAN, KINI DUDUK DI SENAYAN



Saya tidak pernah merancang menjadi wartawan, tapi di ujung studi saya ingin jadi wartawan. Saya tidak pernah merancang menjadi politisi, tapi ketika ada kesempatan saya jalani. Yang terutama, kita serius dan tekun.
Meutya Hafid - KOVER Magazine issue 68
  
Usai menjadi pembicara pada sebuah seminar yang diadakan oleh Rumah Berdikari yang terletak di Jalan Wahid Hasyim No. 54 Medan, sore itu, KOVER Magazine langsung menghampiri Meutya Hafid. “Hai,” sapanya ramah sambil dibarengi senyum khasnya. Sambutannya yang bersahabat tak menyisakan ruang kikuk bagi kami untuk memulai percakapan.


Siapa yang tak kenal sosok Meutya Hafid? Wanita cantik ini memulai karirnya sebagai seorang jurnalis di sebuah televisi nasional, yaitu Metro TV sejak awal tahun 2001 dan akhirnya memutuskan untuk menjadi politisi partai berlambang beringin pada akhir tahun 2008. Disandera ketika sedang dalam tugas peliputan di Irak pada Februari 2005, menjadikan nama Meutya menjadi pemberitaan seluruh media massa pada waktu itu sehingga sosoknya pun kian dikenal.

Meutya memang tidak sedang berada di Indonesia pada masa transisi orde baru menuju reformasi. Lulus SMP, Meutya menerima beasiswa dari pemerintah Singapura sehingga ia pun mantap untuk melanjutkan studi ke negara persemakmuran Inggris sejak 1965 itu. Tak langsung pulang ke kampung halaman, Meutya lalu memutuskan untuk menekuni kuliah di jurusan Manufacturing Engineering University of New South Wales, Australia. 

KIPRAH SEBAGAI JURNALIS
Sejak tahun 1997 hingga 2001 tinggal Negeri Kanguru itu tak berarti membutakan mata wanita berambut pendek ini tentang carut-marut kondisi bangsa ketika itu. Terus mengikuti perkembangan dari televisi, menimbulkan keprihatinan dalam dirinya. “Dulu saya hanya bisa melihat situasi kerusuhan ‘98 dari televisi. Sepertinya ada kerinduan. Ketika terjadi itu, saya harusnya ada di Indonesia. Ingin seperti teman-teman yang ikut turun ke jalan untuk demonstrasi. Kok waktu itu peran saya kurang? Saya kebanyakan di luar negeri meski memang bukan dalam rangka senang-senang, tapi kuliah,” cerita Meutya pada tim KOVER Magazine.

Semilir angin kembali bertiup manja hari itu. Datangnya beriringan bersama mega yang mulai kemerahan di ufuk barat. Alam memang tampak sangat bersahabat sore itu. Dia mengumbar senyum dan dengan senang hati memberi ruang bagi tim KOVER Magazine bercengkerama asyik bersama Meutya Hafid. “Kalau saya mau dekat dengan kejadian, dekat dengan peristiwa, saya harus jadi wartawan. Selain ikut demonstrasi tentunya,” ujar Meutya menyambung cerita tentang awal ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik. 

Masih lekat dalam ingatan Meutya, tahun 2003 adalah waktu pertama kali dia ditugaskan ke daerah konflik, yaitu Aceh. Saat di mana Megawati yang menjabat sebagai presiden masa itu mengizinkan operasi militer melawan anggota separatis di Aceh. Awal Januari 2005, Meutya kembali ditugaskan ke Aceh untuk meliput bencana tsunami yang menerjang Serambi Mekkah itu dan sekembalinya dari sana, pada Februari 2005, Meutya dipercaya oleh Metro TV untuk meliput situasi konflik di Irak. “Enggak menyangka bisa diamanahkan ke Irak, kemudian bisa menjadi berita besar,” tuturnya.

Berani banting setir tanpa takut celaka tentu tepat bila disandingkan dengan sosok wanita bernama lengkap Meutya Viada Hafid ini. Seorang lulusan Teknik Manufaktur yang akhirnya memilih dunia jurnalistik sebagai ladang kerjanya. Tak mengherankan jika awalnya orang tua Meutya juga sempat menolak keputusan puterinya tersebut. Apalagi dulu ada persepsi dalam masyarakat bahwa wartawan itu kerja otot bukan otak. Lagipula orang tua mana yang tak khawatir bila puterinya berada di daerah konflik atau bencana? 


Perlu waktu dua tahun bagi Meutya untuk meyakinkan kedua orang tuanya, terutama sang ayah tentang pilihannya untuk terjun sebagai seorang jurnalis. “Saya membuktikan bahwa kerja saya serius dan dapat mengukir prestasi di dunia jurnalistik. Saya di jurnalistik bukan hanya ingin main-main tapi ingin serius berkarya di situ. Tahun 2003, mereka sudah bisa terima,” jelasnya.


Soal prestasi, tak usah diragukan lagi. Beberapa penghargaan berhasil dikantonginya sepanjang menekuni profesi sebagai jurnalis. Salah satunya adalah Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill dari pemerintah Australia pada tahun 2007. Selain itu, Meutya juga dipercaya membawakan program-program unggulan Metro TV, seperti Top Nine News dan Today’s Dialogue yang tentu mendapat prime time. Ini tentu sekaligus sebagai bukti bahwa kerja kerasnya membuahkan hasil.

Setiap kali memasuki lingkungan baru, seseorang tentu perlu waktu untuk beradaptasi, termasuk dalam dunia kerja. Dalam prosesnya, bahkan seringkali muncul rasa tidak nyaman dan akhirnya membuat seseorang menyerah dan memutuskan untuk berhenti. Bagi Meutya, hal seperti itu wajar terjadi, tapi bukan berarti buru-buru berhenti. 

“Kalau enggak nyaman dan mau keluar dari tempat kerja itu biasa, tapi kita harus konsisten. Saya merasa enggak ada kerja yang bisa setahun-dua tahun kita tinggalkan gitu aja. Kalau mau betul-betul dapat hasil, kalaupun saya mau keluar misalnya, sebagai jurnalis, paling tidak di atas lima tahun. Kalau dalam lima tahun saya belum bisa dapat apa-apa, saya belum bisa mengukir prestasi apa-apa, akhirnya harus ditahan,” ujarnya.

Wanita asal Bandung ini juga berbagi cerita tentang dirinya yang berasal dari disiplin ilmu berbeda tentu mesti banyak belajar mengenai seluk-beluk jurnalistik, misalnya dalam hal wawancara narasumber. “Ketika masuk ke dunia jurnalistik, kan beda sama kuliah saya. Pasti ada perasaan tidak nyaman. Misalnya, langsung dimarahi kalau wawancara orang, tapi saya lupa pangkatnya,” ceritanya. Sebagai pekerja media, Meutya juga harus rela mengorbankan waktunya habis di lapangan walaupun saat hari libur. “Lebaran tidak bersama keluarga. Jam kerja juga yang tidak jelas,” imbuhnya. 

Meski demikian, Meutya mengatakan bahwa ia sangat menikmati pekerjaannya ketika itu karena bisa sekaligus belajar menjadi seorang pekerja. “Kerja tuh pasti kita ngerasa enggak nyaman, kecuali kita punya perusahaan sendiri dan menjadi bos untuk diri kita sendiri. Makanya saya menyarankan sekali supaya anak muda belajar entrepreneurship sehingga bisa membangun sendiri bisnisnya,” tambahnya lagi seraya memberi masukan.

MELIHAT DAERAH KONFLIK
168 jam disandera oleh Jaish Al Mujahideen ketika tengah meliput konflik di Irak bersama Budiyanto menjadi satu pengalaman yang tak bisa hilang dari ingatan Meutya. Meski tahu resiko menjadi seorang wartawan yang ditugaskan ke daerah konflik, yakni disandera, wanita kelahiran 3 Mei 1978 ini tak menyangka sama sekali kalau hal tersebut lantas menimpa dirinya. “Shock. Saya menyangka tidak akan bisa selamat lagi. Tidak menyangka bisa kembali lagi ke tanah air. Waktu itu pikirannya sudah mati aja.”


Kondisi yang menegangkan menjadi makanan Meutya dan rekannya, Budiyanto ketika itu, tepatnya pada bulan Februari 2005. Meliput situasi di daerah konflik tentu nyawa taruhannya. Sebelum diculik dan disandera, Meutya dan Budiyanto sudah sepuluh hari berhadapan dengan kondisi rawan di Irak. “Biasa saat dalam peliputan, ban mobil ditembak. Selama peliputan juga ada aja bom bunuh diri,” paparnya. 


Diculik, Meutya dan Budiyanto lalu dibawa ke sebuah gua kecil di daerah Ramadi untuk disandera di sana. Senjata laras panjang tak henti ditodongkan ke mereka. Meutya juga menceritakan, hanya dia satu-satunya perempuan yang berada di antara mereka ketika itu. “Saya sangat bersyukur bahwa saya tidak disakiti dan tidak dilecehkan,” ujarnya. 

Tak tahu apa motif pasti Jaish Al Mujahideen menyandera mereka. Tidak mungkin motif uang karena ketika itu Indonesia baru saja dilanda bencana tsunami. Motif dendam juga nampaknya tak mungkin karena Indonesia selalu mendukung kedaulatan Irak dan tak ikut melakukan invasi. Satu-satunya yang bisa jadi mungkin motif penculikan dan penyanderaan tersebut, menurut Meutya adalah motif politik. “Pada waktu itu mereka merekam dan menayangkan di televisi sebagai salah satu bentuk propaganda mereka untuk mengatakan bahwa mereka ada dan eksis.”

Setelah dibebaskan, Meutya dan Budiyanto kembali ke tanah air. Tentu perlu waktu bagi Meutya pribadi untuk memulihkan kondisi psikologisnya. Banyak dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk dari teman-teman satu profesi menjadi sebentuk terapi baginya. Apalagi ketika itu, banyak sekali media yang ingin mewawancara Meutya. Setiap hari menceritakan kejadian yang dialaminya ketika disandera, ternyata sangat membantu Meutya merasa lebih tenang dan lega. “Jadi saya enggak ke konselor atau psikiater karena setiap hari saya harus menceritakan sama teman-teman, sehingga tidak terlalu berat pada beban psikologis,” ujar Meutya sambil menyeruput minumannya.

Ditanya soal hal yang paling membuat Meutya tertarik menapak di dunia jurnalistik adalah ketika ditugaskan ke daerah konflik dan bencana. Menurut Meutya, manusia akan menjadi apa adanya ketika berada pada masa-masa sukar. “Hal yang mengesankan sebagai jurnalis, waktu ditugaskan ke Aceh. Saya liputan daerah konflik pertama di situ. Belajar banyak. Saya lihat orang kejar-kejaran dan tembak-tembakan pertama kali ya di situ. Menyedihkan, tapi sangat berarti buat saya sebagai wartawan. Saya tertarik meliput di daerah konflik dan bencana. Saya merasa orang-orang berada pada level paling jujurnya itu di situ. Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sulit biasanya manusia menjadi manusia yang sesungguhnya,  menjadi lebih tulus dan apa adanya.”

Dari pengalaman tersebut, alumnus University of New South Wales ini pun akhirnya memiliki banyak relasi. “Dari peliputan konflik dan tsunami di Aceh, saya punya banyak teman yang bertahan hingga sekarang. Salah satu kenikmatan menjadi wartawan adalah punya banyak teman di berbagai macam profesi dan daerah.”
Meutya juga menuturkan bahwa pengalaman ketika diamanahkan ke Irak adalah yang sangat membanggakan dirinya meski tahu bahaya yang tentu menguntit. “Karena masih muda, jadi excited. Bangga. Karena kita ditunjuk untuk mengerjakan pekerjaan yang berat dan penuh tantangan. Jadi nggak terpikir takut.”

TERJUN MENJADI POLITISI
Berkarya di dunia jurnalistik memang tak selalu manis. Seperti meneguk kopi, terkadang pahitnya yang lebih dulu mendarat di lidah. Di situlah letak kenikmatannya. Tidak tawar. Hal itu pulalah yang membuat Meutya yang kini menjelma menjadi seorang politikus terkadang merindukan masa ketika dia masih berprofesi sebagai wartawan.

“Saya konsen betul tentang media. Ketika di media saya menikmati sebagai pelaku. Sekarang (sebagai politisi-red) saya menikmati karena bisa melihat dari kacamata orang luar media, tapi yang paham mengenai media. Mudah-mudahan saya bisa membuat regulasi yang lebih baik bersama teman-teman di DPR,” ujarnya menjelaskan tentang langkah dan tujuannya ikut serta ambil bagian dalam panggung politik Indonesia. Menurut politikus partai berlambang beringin ini, adanya rumusan Undang-Undang yang buruk, bukan karena niatan buruk anggota DPR, tapi karena kurangnya pemahaman mereka tentang hal-hal yang perlu dituangkan dalam UU tersebut.

Meutya memilih partai berlambang pohon beringin sebagai mobil politiknya. Sebagai orang baru dalam kancah politik, Meutya merasa penting baginya untuk memilih partai yang sudah benar-benar matang dan berpengalaman. 

Muncul sebuah adagium yang sangat sering didengungkan tentang politik, yaitu bahwa tidak ada kawan atau lawan yang abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi. Mendengarnya saja sudah ngeri, tapi anggota komisi I DPR RI ini yakin dengan pilihannya tanpa takut sedikitpun. Menurutnya, bukan hanya di ranah politik saja hal tersebut bisa terjadi, tapi juga di segala profesi. “Dari dulu prinsip saya satu. Tak ada yang perlu kita takuti kecuali kita memang salah.”

Meutya Hafid mulai menceburkan diri ke dalam dunia politik sejak akhir 2008 dan melangkah ke Senayan pada 2010 menggantikan alm. Burhanudin Napitupulu sebagai anggota DPR antar waktu dari partainya. Ia menjadi anggota Komisi I untuk periode 2009-2014 dan berhasil lagi duduk di komisi yang sama pada periode 2014-2019. Sebelumnya, founder Rumah Berdikari ini berpasangan dengan Dhani Setiawan Isma maju sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Binjai periode 2010-2015, tetapi kalah suara. 

Lahir di Bandung, kota yang akrab dengan sebutan Paris van Java, tapi Meutya malah memilih daerah pemilihan Sumatera Utara saat maju menjadi caleg. Selain karena senang dengan tantangan dan tertarik dengan Sumatera Utara, Meutya beralasan bahwa ia ingin melawan persepsi bahwa pengabdian itu harus di tempat di mana kita tumbuh. 

“Saya suka tantangan. Sumut ibarat Indonesia mini karena ada semua etnis, suku, agama, dan macam-macam. Saya melihat masyarakat Sumut adalah orang-orang yang terbuka. Mudah bagi saya mewakili orang yang terbuka. Karena kalau orang yang tertutup susah tahu maunya apa. Saya senang berhubungan dengan masyarakat Sumut karena sesuai dengan kepribadian saya. Kalau suka bilang suka dan sebaliknya. Kedua, saya ingin melawan persepsi bahwa pengabdian itu harus didasarkan pada kita lahir di mana, kita anak siapa, suku, atau agama apa. Seorang muslim tak harus berbakti pada orang muslim saja,” ujarnya menjelaskan.

Berkunjung ke Kota Medan seolah sudah menjadi agenda rutin bagi puteri alm. Anwar Hafid dan Metty Hafid ini. Meski tak ada keluarga yang berdomisili di Medan, Meutya sudah merasa akrab dengan lingkungan Medan. Meutya juga mengatakan bahwa awalnya dia sempat terkejut dengan gaya berbicara orang Medan yang cenderung keras, tapi lambat laun ia pun semakin terbiasa. “Sempat kaget juga sama suara keras orang Medan. Tapi saya ambil positifnya. Saya lebih baik tahu apa yang dia tidak suka daripada ngomong di belakang,” imbuhnya pula.

Meutya juga menuturkan bahwa menjadi politisi bukan profesi yang dia cita-citakan sejak kecil. Dulu, Meutya kecil pernah bercita-cita menjadi seorang pramugari, tetapi belum benar-benar tahu apa yang dia inginkan. “Saya hanya tahu waktu itu saya harus mempelajari Fisika, Matematika, dan Bahasa Inggris,” ujarnya.

“Saya tidak pernah merancang menjadi wartawan, tapi di ujung studi saya ingin jadi wartawan. Saya tidak pernah merancang menjadi politisi, tapi ketika ada kesempatan saya jalani. Yang terutama, kita serius dan tekun,” sambungnya lagi dengan mimik yang lebih serius. Penyuka durian ini kembali menegaskan bahwa dia benar-benar serius ketika memilih apapun yang hendak dijalaninya, mulai dari menjadi seorang jurnalis hingga politisi. 

“Lihat sepeka mungkin kesempatan yang diberi oleh Tuhan. Dia tahu lebih baik tentang perencanaan kita ke depan. Kita bisa berencana apa pun, merancang menjadi apa, menabung akan membeli apa, ternyata saya bisa tidur di atas pasir. Saya banyak belajar ketika di Irak. Kadang-kadang manusia suka menumpuk yang tidak penting, padahal kita bisa survive tanpa itu.” 


Mengalir seperti air adalah prinsip yang masih terus dipegang oleh anggota Komisi I DPR RI ini. Meski terdengar biasa, tapi prinsip ini pulalah yang berhasil membawa Meutya tetap bisa berjalan hingga sejauh ini. Mulai dari kuliah sambil kerja serabutan di department store, membuat burger di restoran cepat saji, bekerja di pabrik majalah, radio, hingga akhirnya sukses menjadi jurnalis dan kini berada dalam kursi strategis di Senayan. “Klise. Tapi memang begitu. Seperti air sungai, ada juga batu-batu yang keras, tapi intinya mengalir aja.”


“Banyak hal yang saya inginkan terjadi di Indonesia. Indonesia yang lebih nyaman dan manusiawi untuk semua orang. Ada pemerataan pembangunan dan informasi secara lebih baik,” katanya seraya menutup obrolan hari itu ketika ditanya tentang impiannya untuk negeri ini.


Terbit di KOVER Magazine issue #68 (edisi 25 April - 24 Mei 2015)
Penulis: Sepfiany Evalina